Jangan Melambaikan Tangan lalu pergi dari Musik Gereja

 Perayaan-perayaan keagamaan dan perayaan ekaristi yang selalu dirayakan tidak terlepas jauh dari musik gereja,dari lagu-lagu gereja yang merupakan bagian sangat penting dalam setiap perayaannya. Menyanyikan lagu gereja merupakan suatu penghayatan iman. Que bene cantat bis orat yang artinya bernyanyi sama dengan berdoa dua kali merupakan sederet istilah latin yang menguatkan setiap hati katolik untuk bernyanyi dengan baik lebih khusus bernyanyi untuk Tuhan,menyanyikan lagu gereja.

Tapi apa mau dikata???? Ketika banyak generasi seakan melambaikan tangan bahkan mengucapkan selamat tinggal untuk bernyanyi di gereja???bukankah ini sebuah perubahan yang sangat berdampak negatif terhadap perkembangan musik gereja???? Satu sisi ini menjadi penyebab tetapi juga merupakan akibat. Penyebab yang menyebabkan kurangnya umat yang bisa menyanyi atau koor dan juga dampak sebuah pola pendidikan.

Sebagai seorang Guru dan lebih spesifik sebagai Guru Agama hal ini merupakan lemparan keras yang betul-betul mengena. Khalayak akan bertanya bagaimana peran Guru?? Tetapi ini bukan semata-mata kelemahan Pendidik karena bisa saja ruang gerak Pendidik dipilah-pilah atau tidak terlalu diprioritaskan dalam kehidupan menggereja atau bisa juga mentalitas Pendidik yang lemah lunglai untuk urusan gereja. Hal ini memang tidak berlaku untuk semua tetapi ada segelintir orang yang berlaku demikian.

Jika ini hanyalah keteledoran lembaga pendidikan,mengapa sekolah lain bisa melibatkan diri untuk urusan musik gereja???bahkan ada sekolah tertentu yang dengan tegas membuat aturan kegiatan extrakurikulernya dengan kegiatan rohani sampai pada puncaknya menangani perayaan besar??? Ini berarti lembaga pendidikan tidak semata-mata menjadi penyebab kurangnya minat umat terhadap musik gereja.

Kembali kepada umat dewasa,banyak hal yang membuat pemahaman dan penghayatan mereka lemah lunglai,ada yang masuk akal ada juga yang dangkal. Berbagai alasan memenuhi perbincangan ketika diajak untuk mengikuti koor;banyak kerja,tidak ada waktu dan tidak bisa baca not. Nah ketika pelatih juga meringankan proses latihan dengan menyanyi instant alias tanoa not terlebih dahulu tetap saja antusiasnya kurang. Dimanakah penyebab utama sehingga minat umat hampir mati untuk bernyanyi di gereja??

Jika salah satunya adalah mentalitas umat lantas siapa yang akan merubahnya?? Apakah yang akan dilakukan gereja untuk membangunkan umat dari kemalasan?? Gereja tidak pernah tidur untuk hal ini. Begitu banyak wadah yang dibuat agar umat terlibat misalnya dengan kegiatan SEKAMI dan OMK tetapi umat katolik bukan hanya SEKAMI dan OMK.

Siapakah yang berani mengatakan "Jangan melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal untuk musik gereja" jika banyak nurani tersentuh dengan ajakan ini maka mulailah dengan mengatakan ini untuk diri sendiri. Hanya ada satu hal yang bisa me gubahnya yaitu NIAT. Niat diri untuk terlibat dalam kegiatan koor,niat orang tua untuk memotivasi anak mengikuti kegiatan koor,niat para guru untuk mengambil bagian dalam kegiatan koor dan niat seluruh umat dewasa untuk ikut kegiatan koor. Katakan tidak untuk lalai,mari mulai dari madah bakti dan dere serani. Katakan tidak untuk melambaikan tangan dan mengucapkan selamat tinggal untuk musik gereja....!!!!

Komentar

Postingan Populer